Tujuan Pendidikan Inklusi

Selain memberikan keadilan pendidikan untuk semua anak, tujuan pendidikan inklusi adalah sedini mungkin memperkenalkan anak pada perbedaan fisik, mental dan sosial dan belajar menerima dan menyukai orang lain, menghargai perbedaan dan melakukan kegiatan yang dilakukan bersama. The merit of such [inclusive] schools is not only that they are capable of providing quality education to all children; their establishment is a crucial step in helping to change discriminatory attitudes, in creating welcoming communities and in developing an inclusive society (Salamanca Statement, Spain 1994).

Komitmen ini dikuatkan oleh Komisi Pendidikan Dunia / United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dalam Task Force on Education for the Twenty-First Century yang menekankan bahwa salah satu dari empat pilar pendidikan adalah ‘Belajar Untuk Hidup Bersama’ (www.unesco.org). Menurut UNESCO, pendidikan harus dilengkapi dengan dua pendekatan yaitu sedini mungkin siswa diberikan pendidikan untuk belajar menerima serta mengenal perbedaan dan siswa terlibat dalam suatu kegiatan bersama berupa aktivitas sosial. Ini berarti bahwa pendidikan selain bertujuan untuk mengembangkan kemampuan secara akademik dan personal, juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan sosial. Hasil akhirnya adalah anak dapat bersikap, berperan dan berperilaku sosial yang dapat diterima serta menjadi bagian dari masyarakat di lingkungannya dan masyarakat dunia.

Pada pendidikan inklusi, tujuan menciptakan masyarakat dunia yang harmoni, penuh toleransi serta menghargai setiap perbedaan diantara umat manusia dimulai dengan mewujudkan terjalinnya interaksi sosial sosial antara siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan siswa non ABK. Interaksi sosial ini diharapkan dapat mengembangkan keterampilan sosial anak sehingga menjadi pribadi yang sosial, sensitif, peduli, dapat memahami perasaan dan persepsi seseorang dari sudut pandang yang berbeda, menerima kekurangan, mengenal kebersamaan, mempunyai keyakinan dan sikap yang positif terhadap setiap orang, hidup harmoni, perilaku anti kekerasan seperti yang diharapkan dunia.

(Artikel diambil dari tesis Ernie C. Siregar. (2013), Efektivitas Program Bimbingan   Keterampilan Sosial untuk Meningkatkan Empati dan Disability Awareness pada Peserta didik Non ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) (Studi Eksperimen Kuasi pada Peserta didik Non ABK Kelas IV A SD Laboratorium UPI, Kampus UPI-Setiabudi Bandung).