Sejarah dan Makna Pendidikan Inklusi

Pendidikan inklusi berarti menempatkan dan mengakomodasi anak pada sekolah reguler tanpa mempedulikan keadaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, termasuk anak-anak penyandang cacat anak-anak berbakat (gifted children), pekerja anak dan anak jalanan, anak di daerah terpencil, anak-anak dari kelompok etnik dan bahasa minoritas dan anak-anak yang tidak beruntung dan terpinggirkan dari kelompok masyarakat (Unesco, 2005).

Usaha ini secara berkala digaungkan PBB dengan berbagai macam kegiatan serta perjanjian antara lain Declaration of Rights of Disabled Persons (1975), The Convention on The Rights of the Child (1989), The World Conference of Education for All (1990), The World Conference of Special Needs Education on Salamanca-Spain (1994), dengan keyakinan bahwa: (1) setiap anak mempunyai hak untuk mendapat pendidikan; (2) setiap anak mempunyai karakteristik, minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda dan unik; (3) perancangan sistem pendidikan dan pengimplementasian program pendidikan harus dibuat dengan menga

komodasikan berbagai macam karakteristik dan kebutuhan anak; (4) setiap anak yang berkebutuhan khusus harus mempunyai akses memasuki sekolah regular dan sekolah tersebut harus menyediakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus tersebut, dan; (5) sekolah regular dengan orientasi pendidikan inklusi adalah cara yang paling tepat dalam mencapai tujuan memerangi sikap diskriminasi pada masyarakat, menciptakan komunitas masyarakat yang ramah dan dapat menerima perbedaan serta menyediakan pendidikan untuk semua. (Salamanca Statement, butir 2, 1994).

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia merespon dan mendukung komitmen dunia terhadap pendidikan inklusi dengan mengeluarkan beberapa perangkat undang undang, antara lain UU No. 20 th 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1), (2), (3) dan (4) tentang kesamaan hak pendidikan tanpa memandang kondisi fisik, emosional, mental, kecerdasan maupun kondisi geografis.

(Artikel diambil dari tesis Ernie C. Siregar. (2013), Efektivitas Program Bimbingan   Keterampilan Sosial untuk Meningkatkan Empati dan Disability Awareness pada Peserta didik Non ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) (Studi Eksperimen Kuasi pada Peserta didik Non ABK Kelas IV A SD Laboratorium UPI, Kampus UPI-Setiabudi Bandung).