Latar Belakang Gerakan Pendidikan Inklusi

Konflik yang terjadi pada umat manusia saat ini sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk dapat menerima perbedaan diantara umat manusia itu sendiri (Unesco,2005). Perbedaan karena agama, ras, etnik, fisik, tingkat hidup, kemampuan, cara pandang dan lain lain menimbulkan rasa superior, kompetisi dan inferior diantara manusia yang akhirnya menjurus kepada terciptanya konflik dunia yang tiada berkesudahan.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai badan dunia secara terus menerus merespon kondisi tersebut dengan mengemukakan suatu pemikiran dan usaha menghindari konflik di masa depan dengan mengajarkan anak-anak yang ada di dunia melalui pendidikan formal mengenai kebersamaan, harmoni, perilaku anti kekerasan dan menjadi pribadi yang sosial. Hal tersebut didapat dengan cara belajar menerima dan menyukai orang lain, menghargai perbedaan dan melakukan kegiatan yang dilakukan bersama. Salah satu cara yang dilakukan oleh PBB untuk mewujudkan tercapainya dunia yang damai melalui sektor pendidikan tersebut adalah dengan menggerakkan negara di dunia untuk berkomitmen menyelenggarakan dan mendukung pendidikan inklusi.

(Artikel diambil dari tesis Ernie C. Siregar. (2013), Efektivitas Program Bimbingan   Keterampilan Sosial untuk Meningkatkan Empati dan Disability Awareness pada Peserta didik Non ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) (Studi Eksperimen Kuasi pada Peserta didik Non ABK Kelas IV A SD Laboratorium UPI, Kampus UPI-Setiabudi Bandung).