Kemampuan Empati

Empati terdiri dari kemampuan afektif dan kemampuan kognitif. Kemampuan afektif dapat dilihat dari kepedulian secara empatik yaitu kemampuan dalam memahami perasaan orang lain sedangkan kemampuan kognitif adalah kemampuan untuk memahami   bagaimana sesuatu hal dialami dari sudut pandang orang lain/perspective taking. Perkembangan empati dipengaruhi oleh faktor kematangan dan juga faktor lingkungan yang mempengaruhi terbentuknya empati secara sempurna.

Pada umur 2 tahun seorang anak sudah dapat menunjukkan dan bertindak dengan cara-cara yang menunjukkan empati yaitu mempunyai kemampuan kognitif untuk menafsirkan keadaan fisik dan psikologis dari orang lain, mempunyai kapasitas emosi dalam memahami secara afektif terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku yang mencoba untuk mengurangi ketidaknyamanan pada orang lain (Santrock, 2010). Namun, kemampuan empati tersebut belum berkembang secara sempurna. Seorang anak harus berkembang cukup matang untuk dapat mengidentifikasi dan menyebutkan perasaan secara tepat (Santrock, 2010), membedakan dirinya dan individu lain (Riechl, 2011), mempunyai kemampuan perspective taking (Baker, 2004), mengetahui dirinya sendiri (Kohler, 2012 dalam Engelen, 2012).

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka faktor kematangan menjadi penentu efektif atau tidaknya intervensi yang diberikan. Pada usia 8-9 tahun, seorang anak secara usia telah cukup matang untuk memahami perasaan orang lain, namun tidak semua anak cukup matang secara usia untuk mempunyai kemampuan memahami bagaimana sesuatu hal dialami dari sudut pandang orang lain/perspective taking. Padahal kemampuan untuk dapat mengambil sudut pandang orang lain merupakan prasyarat terbentuknya empati secara sempurna yang dilihat dari skor tingkat empati secara keseluruhan.

Empati membutuhkan kemampuan pemahaman kognitif dan harus ditempuh dengan proses belajar, karena proses belajar adalah sesuatu yang harus ditempuh oleh seorang anak untuk dapat berperilaku, berperan dan bersikap sosial (Hurlock, 1978). Mempelajari empati sebagai salah satu bentuk keterampilan sosial bertujuan agar peserta didik non ABK mempunyai kepedulian dan kemauan untuk berinteraksi dengan peserta didik ABK dan proses akhirnya adalah perilaku untuk berinteraksi dengan individu dengan disabilitas.

(Artikel diambil dari tesis Ernie C. Siregar. (2013), Efektivitas Program Bimbingan   Keterampilan Sosial untuk Meningkatkan Empati dan Disability Awareness pada Peserta didik Non ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) (Studi Eksperimen Kuasi pada Peserta didik Non ABK Kelas IV A SD Laboratorium UPI, Kampus UPI-Setiabudi Bandung).