ARTIKEL TERKAIT AUTISME

Diagnosa Gangguan Autisme

Sebelum tahun 1980, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), belum memasukkan istilah Autisme pada kategori gangguan mental. Saat terdapat anak yang menunjukkan gangguan dengan perilaku autistik, maka anak tersebut didiagnosa dengan gangguan mental yang gejalanya mendekati, yaitu gangguan dengan reaksi Schizophrenia (jenis anak anak).

Pada tahun 1980, istilah Autisme mulai dimasukkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) sebagai satu kriteria gangguan yang ada dalam diagnosa gangguan payung Pervasive Developmental Disorders. Pada kriteria gangguan Pervasive Developmental Disorders ini, Autisme (mencakup gangguan Autistic Disorders, Asperger’s Syndrome, Pervasive Development Disorder-Not Otherwise Spesific ) disandingkan dengan gangguan Rett’s Syndrome serta Childhood Disintegrative Disorder. Namun sejak tahun 2013 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi V), Autisme dimasukkan dalam satu diagnosa tersendiri yaitu Autism Spectrum Disorders.

(Artikel diambil dari draft disertasi Ernie C. Siregar, Strategi penanganan dengan pendekatan perilaku- perkembangan dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan emosi pada anak dengan spektrum autisme)

 

Prevalensi Gangguan Autisme

Proporsi antara penyandang spektrum autisme dibandingkan jumlah keseluruhan anak (prevalensi) dibandingkan dengan populasi semakin lama semakin meningkat (rata rata kenaikan prevalensi sebesar 20 % per dua tahun . Diperkirakan terdapat 37 juta anak dengan spektrum autisme di seluruh dunia, atau satu dari setiap 68 anak menyandang spektrum autisme. Saat ini gangguan spektrum autisme merupakan kasus gangguan yang paling banyak terjadi pada anak, lebih tinggi dibandingkan penyakit kanker, gangguan tulang belakang serta down syndrome dan tidak dipengaruhi oleh etnis dan kelas ekonomi.

Di Indonesia, data mengenai prevalensi mengenai spektrum autisme belum tersedia, namun diperkirakan terdapat 112.000 penyandang spektrum autisme dengan rentang usia sekitar 5-19 tahun (Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan buk.depkes.go.id).

(Artikel diambil dari draft disertasi Ernie C. Siregar, Strategi penanganan dengan pendekatan perilaku- perkembangan dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan emosi pada anak dengan spektrum autisme)

 

Filosofi dan Konsep Dasar Pendekatan Perilaku

Perilaku adalah apa yang individu lakukan (termasuk gerakan dan perkataan). Perilaku dapat disebabkan oleh individu itu sendiri atau berbagai keadaan di luar individu. Lingkungan adalah keadaan nyata dimana individu berada. Pendekatan perilaku melihat bahwa perilaku dan lingkungan tidak bisa dilepas satu sama lain, dimana satu perilaku terjadi karena pengaruh lingkungan.

Manusia dapat mempengaruhi lingkungan dan lingkungan dapat mempengaruhi manusia (Feedback Loop) dengan cara proses Trial and Error dan proses Shapping. Proses itu akan berjalan dengan alami dan disebut proses belajar, namun proses itu tidak terjadi pada anak dengan spektrum autisme.

Perilaku, yang merupakan hasil dari proses belajar individu, terjadi atas peristiwa yang mendahului dan mengikuti perilaku. Suatu perilaku dapat dipelajari dan dapat dihilangkan dengan cara memanipulasi perilaku berdasarkan asesmen dan menggunakan strategi intervensi. Perilaku yang mendapat hasil yang memuaskan akan sering dilakukan dan perilaku yang mendapat hasil yang tidak memuaskan akan ditinggalkan.

Teori dan Filosofi di atas yang menjadi landasan lahirnya penanganan dengan metode yang berdasarkan penelitian dan fokus pada perilaku yang fungsional dalam kehidupan.

(Artikel diambil dari draft disertasi Ernie C. Siregar, Strategi penanganan dengan pendekatan perilaku- perkembangan dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan emosi pada anak dengan spektrum autisme)

 

Faktor Penyebab Autisme

Sampai saat ini belum terdeteksi faktor tunggal penyebab gangguan spektrum autisme, namun beberapa perpektif mencoba menerangkan berbagai faktor penyebab yaitu :

  • Perspektif Lingkungan – Sosial

Autisme terjadi karena pengaruh pola asuh orang tua, dimana orang tua (khususnya Ibu) bersikap “dingin”, tidak menunjukkan kepedulian dan kehangatan dalam mengasuh anak (Refrigerator Mother). Teori ini digagas Bruno Bettleheim pada tahun 1959, dan dipengaruhi oleh hasil observasi Dr. Leo Kanner (1949), dimana rata rata orang tua yang mempunyai anak dengan autisme mempunyai karakter dingin dan penyendiri, lebih mementingkan pekerjaannya dan tujuan dirinya daripada anaknya .

Selain pola asuh orang tua, lingkungan yang ada di sekitar anak mempengaruhi munculnya ganguan spektrum autisme. Usia orang tua saat anak dikandung, proses yang terjadi saat anak dalam kandungan dan proses kelahiran, jarak kehamilan antara anak satu dengan anak yang lain, pola hidup ibu, infeksi yang didapat ibu saat anak dalam kandungan, serta paparan logam berat meningkatkan resiko gangguan spektrum autisme.

Studi lain menunjukkan kondisi ibu mengandung yang terpapar virus Rubella, Toxoplasmosis, Chytomegalovirus, Herpes, Meningitis, Encephalitis, Tuberous Sclerosis berpotensi melahirkan anak dengan gangguan spektrum autisme 10 kali lipat lebih tinggi.

  • Perspektif Biologis (Genetik-Neurologis)

Studi mengenai faktor genetik sulit dilakukan, karena dewasa dengan gangguan spektrum autisme jarang menikah. Sampai saat ini belum dapat diidentifikasi gen mana yang mempengaruhi timbulnya gangguan dengan spektrum autisme, namun diperkirakan lebih dari varian 100 gen yang berhubungan dengan gangguan spektrum autisme. Pengaruh dari faktor genetik diperkuat dengan studi terhadap anak kembar yang menunjukkan bahwa anak kembar yang lahir dengan satu telur (Monozygotic twin) berpotensi lebih besar untuk mengalami gangguan spektrum autisme secara bersamaan daripada anak anak kembar yang lahir dengan dua telur (Dizygotic twin) .

Berdasarkan pemeriksaan Elektro Enselo Grafi (EEG), alat yang mempelajari gambar dari rekaman aktifitas listrik di otak, anak dengan spektrum autisme menunjukkan pola gelombang otak yang abnormal serta gangguan pada struktur dan fungsi otak (cerebellum, sistem syaraf pusat). Otak anak dengan spektrum autisme kurang mampu melakukan reorganisasi dalam bentuk interkoneksi baru pada syaraf, sehingga kurang mampu untuk berubah dan beradaptasi terhadap kebutuhan fungsional.

(Artikel diambil dari draft disertasi Ernie C. Siregar, Strategi penanganan dengan pendekatan perilaku- perkembangan dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan emosi pada anak dengan spektrum autisme)

 

PENDIDIKAN SEKSUAL BAGI ANAK DENGAN AUTISME

Kasus pelecehan seksual, masalah kebersihan diri serta perilaku seksual yang tidak tepat merupakan tiga masalah utama yang dilaporkan oleh orang tua dan pendidik pada remaja dengan autisme. Dilaporkan 78 % Remaja dengan ASD mengalami pelecehan seksual dan cenderung mengalami pelecehan seksual 2-3 kali lebih besar dibandingkan remaja tanpa ASD Keterbatasan komunikasi sosial, kurangnya konsep diri dan lingkungan serta dorongan hormon seksual yang tumbuh saat remaja memasuki masa pubertas menyebabkan remaja dengan ASD mengalami kendala dalam memahami nilai, pertimbangan sosial serta mengatasi kebutuhan seksualnya.

Selain kondisi autisme, kurang atau bahkan belum tersedianya pendidikan mengenai kesehatan reproduksi secara menyeluruh merupakan faktor yang ikut berkontribusi terhadap masalah yang terjadi. Hal itu disebabkan karena persepsi, norma, kurang sesuainya materi pendidikan yang ada dengan kebutuhan anak dengan ASD, pendidikan yang terlambat diberikan serta kebingungan akan strategi dan media yang tepat untuk memberikan layanan pembelajaran bagi penyandang ASD.

 

Lingkungan cenderung mempunyai persepsi bahwa anak dengan ASD tidak memerlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi karena tidak matang secara seksual atau aseksual dan jikapun ada hanya memberikan pada anak dengan ASD yang mempunyai kemampuan verbal yang tinggi .

Meski pendidikan seksual adalah topik yang perlu didiskusikan serius, namun topik ini cenderung akan dihindari daripada dihadapi oleh orang tua dan pendidik. Pendidikan seksual yang ada didalam pendidikan kesehatan reproduksi diangap sebagai hal yang tabu dibicarakan dan dipelajari.

Program pendidikan kesehatan reproduksi yang ada tidak dikhususkan bagi penyandang autisme juga tidak disesuaikan dengan bagaimana anak dengan ASD belajar. Para pendidik dan orang tua cenderung terlambat memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi pada anak ASD saat ada masalah dan mereka memperlihatkan perilaku yang tidak tepat.

Pendidikan kesehatan reproduksi perlu diberikan bagi anak dengan ASD untuk menghadapi masa pubertas dan diberikan sebelum timbul perilaku seksual yang tidak tepat. Pendidikan kesehatan reproduksi bukan semata semata mengajarkan pendidikan seksual, namun juga berisi pendidikan biologi, kultur sosial, psikologis serta spiritual. Anak dengan ASD dapat belajar, namun kebanyakan tidak dapat belajar dengan cara yang sama seperti teman sebayanya. Diharapkan dengan mempunyai pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, maka anak dengan ASD mempunyai pertimbangan dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dapat meningkatkan higienitas, serta dapat menurunkan perilaku seksual yang tidak tepat, tidak layak dan .

 ( Ernie C. Siregar )